Aktivis Smur Menilai Kebijan Pemerintah Aceh Pemotongan Angaran Dayah Untuk Covid 19 Tidak Menghargai perjuangan Bangsa Aceh Dan Gam

Bagikan

Mediaanakbangsa.com,Banda aceh-muhammad khalis aktivis yang tergabung dalam solidaritas mahasiswa untuk rakyat(smur) menilai kebijakan pemerintah aceh pomotongan anggaran dayah untuk covid 19 tidak menghargai perjuangan bangsa aceh dan gam .(5/05/2020).

Beberapa hari ini publik aceh kembali di hebohkan dengen kebijakan bodoh pemerintah aceh yg ingin memangkas angaran dayah senilai 205 milyar untuk covid 19 hal ini terjadi contra dari berbagai kalangan baik anggota dewan, guru dayah, masyarakat aceh umumnya tak terkecuali aktivis muda yang tergabung dalam solidaritas mahasiswa untuk rakyat(smur) dia menilai kebijakan ini sangat melukai hati masyarakat aceh di karnakan lahir dinas badan pendidikan dayah aceh berkat perjuangan rakyat aceh dan gam dalam membrontak negara yang lebih kurang hampir 30 tahun dan berakhir di meja hijou yaitu di firlandia helsinki pada tanggal 15 agustus 2005,

Coba bapak lihat berapa ribu nyawa bangsa aceh yang sudah menjadi syuhada, yang berjuang demi aceh ini mereka meninggalkan anak anak cucu yang harapanya sangat besar untuk bisa mengantikan ulama ulama aceh kedepan bila mereka kelak sudah tidak ada lagi, hari ini berkat purjuangan mareka kita sudah berbeda dari pada provinsi provinsi lain yang ada di indonesia apa lagi aceh di kenal dengan serambi mekah yang kaya dengan ilmu agama tetapi hari ini apa yang sudah bapak kerjakan?
Kalau memang bapak tidak bisa memimpin aceh lebih baik bapak mundur saja dari jabatannya memangkas uang dayah bukan solusi menurut khalis

Muhammad khalis menambahkan sangat banyak anggaran anggaran lain yang bisa di pangkas contohnya pengadaan mobil dinas, perjalana dinas itu kan bisa, kenapa harus dayah yang menjadi korban, dayah mencetak kader kader ulama bukan generasi korupsi

Khalis juga menyindir tentang Rencana kebutuhan belanja (RKB) yang dibagikan 1 minggu yang lalu bahan pokok harganya tidak sesuai dengan realita di lapangan. Seperti gula pasir yang diajukan 1 kilogramnya Rp30.000. Padahal harga di pasaran hanya sekitar 17ribu rupiah ini jugat sangat kecewa saya lihat, pemerintah bek harkat teungeh bala geubi le allah, bek jai dilho ngon dirot. Meuhai taloe ngon yum leumo. Kajai laba awak hu taloe ngon untog urueng po. tutur khalis di penghujung pembicaraan dengan raut wajah yang sangat kesal.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *