MUALLIM, MAAFKAN AKU TELAH MENDO’AKANMU SUPAYA SAKIT

Bagikan

Mediaanakbangsa.com,Banda Aceh-Pasukan Muallim Muzakkir Manaf yang sedang bersembunyi di Peusangan Selatan sadar bahwa sudah dalam kepungan. Husaini Pranko telah melihat lebih awal TNI sedang mengendap di perkebunan coklat dan pinang masyarakat. Dari pantauan radio HT, mereka menahan serangan menunggu perintah dari komandannya.

“Garuda I, tahi lalat muka sebelah kanan, target M dua dan pembawa senjata RPD, Petrus. Perintah!” Lapor pasukan mengendap.

“Tahan tembakan! Perintah tangkap mereka hidup hidup” jawab Garuda I.

Dugaan kami, Garuda I adalah Wadan Ops, Mayjen TNI Bambang Darmono.

Walau masing-masing kami dalam kegundahan, kami tetap tenang. Aku sendiri sengaja buang air kecil menghadap dan mendekat ke arah TNI mengendap. Kurang dari 100 meter jaraknya. Apa yang aku lakukan adalah sebagai alih perhatian agar pasukan Muallim bergeser satu persatu dari lokasi pengepungan. Begitulah aku, Husaini Pranco dan pasukan lainnya mencoba menahan agar Muallim selamat. Kesetiaan kepada pemimpin sangat penting bagi kami sebagai pasukan.

Sementara masih dari pantauan radio HT, pasukan TNI sejumlah 6 reo sudah di Tanjung beuridi untuk memperkuat pasukan yang mengendap.

Dari suara radio HT, pembicaraan pasukan TNI dengan dengan komandannya tidak menggunakan kata sandi lagi.

“Mereka rame Komandan!” lapor TNI pengendap

“Pokoknya jangan tembak. Tangkap mereka hidup hidup” suara komandannya meninggi.

Sementara sebagian kami membuat alih perhatian, Muallim dan pasukan lainnya terus bergeser ke tempat yang aman. Setelah kami yakin Muallim benar-benar telah bergerak menuju titik aman, kami pun menyusul dari belakang mengikuti jejak mereka.

Dari wilayah kami terkepung, kami menuju perkebunan masyarakat Pulo Musang lalu ke daerah Sawang. Kami sudah mengontak Pasukan GAM Wilayah Linge melalui Teungku Salman bahwa kawasannya aman. Sementara tugas penjemputan juga sudah dipersiapkan dipimpin oleh Panglima Wilayah, Fauzan Azima.

Setelah berjalan empat hari, pada Bulan Ramadhan 2004, kami bertemu dengan Fauzan Azima dan pasukannya di “daerah Gajah Mati.” Pertemuan yang penuh haru, apalagi plong rasanya setelah lolos dari pengepungan. Kami naik ke kawasan markas GAM Linge sebanyak 15 orang; Muallim, Apa Man (Wapang Wilayah Bateeilek), Teungku Dun, Pawang, Geucik Suf, Pun Bukit Sudan, Lea, Husaini Pranco, Teungku Ija Krueng, Boh Labu, Hercules, dan tiga pasukan lainnya.

Setelah berhenti sejenak, pasukan terus berjalan ke arah Bukit Rebol daerah Gunung Geureudong Bener Meriah. Aku sendiri sakit dan sudah tidak kuat lagi berjalan. Namun untuk kebersamaan dalam jama’ah, aku memaksakan diri berjalan tertatih-tatih.

Dalam sakit dan lelah, aku berdo’a, “Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Tuhanku, berilah kekuatan kepadaku, jika Engkau tidak memberi kekuatan kepadaku, maka buatlah mereka sakit.”

Do’a itu aku tujukan khusus kepada Muallim dan Apa Man.dapam tertatih tatih karena tubuhku telah bersemayam malaria akhirnya aku bertemu kembali dengan mereka, Tiba-tiba Panglima Fauzan Azima memerintahkan untuk membuat bivak di pematang jalan setapak. “Bang Petrus! Kita bermalam di sini, Muallim dan Apa Man sakit perut” kata Panglima Fauzan Azima.

“Alhamdulillah, do’aku Engaku kabulkan Ya Allah” aku tengadahkan tangan. Dalam hati pada saatnya nanti aku akan memohon maaf kepada Muallim dan Apa Man atas “do’aku yang tidak baik” kepada mereka. Meskipun do’aku terkabul tapi pada prinsifnya aku tidak ingin mereka menderita sakit. Aku hanya ingin berhenti sejenak melepas lelah dan memulihkan sakitku.

Alhamdulillah niat meminta maaf, khususnya kepada Muallim telah saya tunaikan pada saat awal damai di Kantor KPA, jalan Teungku di Blang, Lamdingin, Banda Aceh. Permintaan maaf itu saya sampaikan disaksikan oleh Irwandi Yuduf, Ampun Man, Teungku Bachtiar Abdullah dan Munawar Liza Zainal.(Penulis Fadhli Abddulah/Petrus )

(Banda Aceh, 5 Desember 2019)

Jasa Pembuatan Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *